Di tengah dingin udara malam tepi Danau Situ Lembang, Bandung Barat, para atlet, pelatih, dan tim pendukung Pelatnas Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) melingkar mengelilingi api unggun.
Dalam lingakaran yang satu dan utuh, mereka saling menguatkan semangat kebersamaan dan komitmen membela Merah Putih.
Itulah gambaran acara api unggun sebagai penutup retret PBSI yang dilakukan tiga hari, sejak Minggu (2/2025) hingga Rabu ini. Ketua Umum PBSI M. Fadil Imran menyampaikan pesan-pesan dan renungan, menggugah semua insan PBSI yang hadir saat itu.
“Malam ini, tidak ada tepuk tangan penonton, tidak ada sorotan kamera, tidak ada gemuruh stadion. Yang ada hanyalah kita! Kita yang telah melalui hari-hari penuh tantangan, keringat, kelelahan, dan kebersamaan,” Fadil mengawali pesan renungannya melansir situs resmi PBSI.
Fadil mengingatkan bahwa menjadi juara bukan hanya soal kecepatan smash atau kelincahan kaki, tetapi juga tentang seberapa kuat hati menghadapi tekanan, seberapa besar jiwa menerima tanggung jawab sebagai pembela Merah Putih.
“Kita datang dari tempat kita masing-masing sebagai individu. Malam ini, kita adalah satu kesatuan, satu tim, satu keluarga besar PBSI. Di lapangan, kalian mungkin akan bertanding sendiri. Tapi jangan pernah lupa, di belakang kalian ada saudara-saudara yang siap mendukung, ada pelatih yang siap membimbing, ada jutaan rakyat Indonesia yang menggantungkan harapan mereka di pundak kalian!” Fadil kembali membakar semangat para atlet, pelatih, dan tim pendukung.
Para atlet, pelatih, dan tim pendamping melakukan latihan team building di daerah latihan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Situ Lembang. Selain Kopassus, hadir juga instruktur dari Dinas Psikologi TNI AD (Dispsiad) memberikan latihan dan stimulasi psikologis dalam
berbagai permainan kelompok.
Ketua Komite Etik PBSI Djon Afriandi yang juga Komandan Jenderal Kopassus menyampaikanmateri tentang ketangguhan mental dan kewajiban atlet menjaga kehormatan sebagai pembelaMera Putih.
“Jangan pernah bermain hanya untuk diri sendiri. Bermainlah untuk nama Merah Putih. Jangan pernah menyerah. Perjuangan para legenda bulu tangkis kita tidak boleh berhenti di sini!” ujar Fadil.
“Menang, kita rayakan bersama. Kalah, kita bangkit bersama. Di lapangan, kita bertarung dengan keberanian. Di luar lapangan, kita tetap satu keluarga!” tutup Fadil.